Sebuah pesantren bernama Ibnu Mas’ud di Bogor yang pernah diinapi oleh bocah berusia 13 tahun bernama Hatf Saiful Rasul, tetap ogah untuk dibubarkan. Bocah tersebut dinyatakan tewas di Suriah sebagai salah satu militant kelompok ISIS atau Negara Islam dan juga sejumlah terpidana terorisme. Pasalnya, pesantren tersebut menolak dikait-kaitkan dengan radikalisme.

Pernah diinapi Haft Saiful Rasul Berbulan-Bulan

Bocah 13 tahun tersebut sempat menginap di pesantren tersebut selama berbulan-bulan, tepatnya tiga bulan. Pesantren tersebut pasalnya juga memiliki sebuah hubungan dengan terpidana kasus pelatihan militer yang ada di Aceh pada tahun 2010 di mana pelatihan tersebut juga difasilitasi oleh Dulmatin, salah satu otak dari peristiwa Bom Bali di tahun 2002 silam. Orang tersebut adalah Hari Budiman. Sempat terjadi pembakaran umbul-umbul oleh staf pesantren tersebut.

Oleh sebab itu, pada tanggal 16 Agustus silam, beberapa orang dari sejumlah kelompok sempat berunjuk rasa dan meminta pesantren tersebut membubarkan diri paling lambat tanggal 17 September esok, tepatnya hari Minggu. Alasannya adalah, pesantren tersebut dinilai menghasilkan banyak pelaku teror. Namun Agus Purwoko, ketua yayasan tersebut (Yayasan Al Urwatul Usro), menolak dengan tegas dan juga menyangkal tudingan-tudingan tersebut. “Semua tudingan yang tertuju tidak benar. Mereka menghubungkan kami dengan terori,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, pada hari Kamis, 14 September 2017 kemarin.

Sementara itu, menurut Usman Hamid, DIrektur Amnesty Internasional Indonesia, menilai bahwa tujuan untuk membakar umbul-umbul itu dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untu menutup Ibnu Mas’ud. “Pembakaran tersebut ingin dilihat sebagai suatu sikap pesantren. Itu salah. Kalau ada persoalan akibat 1 orang, ya itu individual,” ungkapnya.

Sebagai Tersangka

Polres Bogor pasalnya sudah menetapkan staf Ibnu Mas’ud yang membakar umbul-umbul merah putih yakni Mohammad Supriyadi atau Abu Yusuf yang dinilai merusak bendera dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 5 tahun. “Pelaku sendiri menganggap umbul-umbu merah putih 17-an itu sebagai representasi negara, lalu dijadikan sebagai sasaran kebenciannya. Oleh karena itu dibakar,” tutur AKBP Andi Dicky pada wartawan di pertengahan Agustus lalu.

Sebelum penangkapannya, viral di media sosial banyak orang yang berdemo di depan pesantren Ibdu Mas’ud untuk menutup pesantren tersebut sebelum penangkapannya dan berteriak, “NKRI Harga mati!” saat itu sejumlah barakuda dan personel juga disiapkan untuk mengantisipasi adanya amukan massa. Dan sejumlah pejabat desa lalu beraudiensi dengan perwakilan dari Ibnu Mas’ud dan juga membuat kesepakatan untuk menutup pesantren pada 17 September 2017.

Agus sendiri mengaku bahwa dirinya tak mengikuti jalannya audiensi tersebut. Ia juga mengaku tak menandatangani satu pun pernyataan terkait dengan desakan tersebut. Agus bersikeras akan tetap mempertahankan pesantren itu yang ia bangun selama kurang lebih 6 tahun lamanya dengan 7 orang koleganya. “Pondok saya ini kecil, kumpulan orang-orang yang terbuang, kenapa harus didemo? Kalaupun ada indikasi teror kan bisa berbicara dengan saya dulu. Persoalan domino qiu qiu yang tak kami lakukan, dituduhkan pada kami untuk menghakimi kami harus segera bubar,” katanya.

Namun Agus membenarkan adanya hubungan pesantrennya dengan Haft Saiful Rasul serta Hari Budiman. Hari malahan adalah salah satu dari 7 koleganya yang memilki pesantren tersebut. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Haft dan Hari sebagai teroris tidak ada hubungannya dengan Ibnu Mas’ud yang artinya tak ada hubungan kelembagaan. Ia bahkan mengaku mendesak Hari guna keluar dari yayasan karena koleganya itu terlibat terorisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *