Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sudah seharusnya selalu dijaga dan dilestarikan. Sebagai salah satu kekayaan budaya lokal, batik menjadi cirri khas tersendiri bagi Negara Indonesia di kancah luar negeri. Bahkan tidak jarang warga Negara asing yang kenal batik hingga kemudian menyukainya. Jadi kita sebagai warga Negara Indonesia yang memiliki kekayaan budaya tersebut harusnya terus menjaga kelestariannya. Ada beberapa tempat penghasil batik yang terkenal di Indonesia dan sampai saat ini masih terus memproduksinya yaitu contohnya seperti daerah Pekalongan Jawa Tengah, Yogyakarta, Solo dan masih banyak lagi yang lainnya. Setiap tempat tentunya memiliki kekhasan dan cirri khas batik masing-masing yang kemudian menjadikan batik Indonesia penuh dengan keberagaman dan pesona yang unik, mulai dari warna, corak, bentuk, dan sebagainya.

Turunnya Omset Penjualan Batik di Pasar Setono, Pekalongan, Jawa Tengah

Sudah menjadi sebuah rahasian umum bahwa daerah Pekalongan di Jawa Tengah merupakan salah satu daerah penghasil batik terbesar di Indonesia. Di daerah tersebut juga sudah banyak pedagang yang menjual batik di pasar, toko-toko, mall dan tempat-tempat wisata.  Namun ternyata saat ini aktifitas perdagangan batik di Pasar Grosir Batik Setono, Kota Pekalongan, Jawa Tengah semakin hari semakin sepi pengunjung. Banyak penjual yang merasa dagangan mereka kurang laris atau kurang selama sebulan terakhir ini.

Akibat dari keadaan penjualan yang sepi tersebut banyak pedagang yang merugi karena dagangan mereka sepi pembeli tapi mereka tetap harus membayar gaji karyawan mereka setiap bulannya. Dilansir dari sebuah sumber terpercaya, menurut pengakuan seorang pedagang di Pasar Grosir Setono bernama Muamaroh pada hari rabu tanggal 27 September 2017 kemarin, dalam keadaan sepi ataupun ramai mereka tetap harus membayar gaji pegawai mereka tiap bulannya sebesar 7 ratus ribu rupiah. sedangkan keadaan pasar yang saat ini sedang sepi mengakibatkan penjualan batik hampir bisa dikatakan tidak ada yang terjual sama sekali.

Alasan Penyebab Sepinya Omset Penjualan batik

Muamaroh mengatakan bahwa sepinya kondisi Pasar Grosir Batik Setono hingga mengakibatkan turunnya omset penjualan Chip poker online tersebut dipicu oleh faktor perekonomian masyarakat yang sedang turun. Selain itu dia juga menambahkan bahwa faktor lain yang menyebabkan sepinya omset penjualan batik mereka adalah karena hampir sebulan terakhir ini tidak ada tamu kunjungan dari pemerintah daerah seperti halnya waktu-waktu sebelumnya.

Meskipun keadaan pasar Batik Setono masih sepi, tapi para pedagang masih tetap menjual dagangan batik mereka secara normal katanya agar tidak terlalu merugi. Harga batik di pasar tersebut biasanya berkisar antara 20 ribu sampai ada juga yang mencapai harga jutaan rupiah. Semua itu tergantung dari motif dan bahan baku batik tersebut yang dijual. Tapi rata-rata harga baju batik biasa seperti daster per potongnya masih murah sekitar antara 20 sampai 30 ribu rupiah saja.

Pemilik sebuah toko batik itu juga mengatakan bahwa keadaan pasar yang terus sepi membuat para pedagang khawatir dan resah. Ditambah lagi adanya proyek pembangunan jalan tol batang-Pemalang yang dikatakan bisa lebih memperparah keadaaan Pasar Grosir batik tersebut. Oleh karena itu dia berkata mewakili para pedagang lain untuk mengatakan bahwa mereka berharap pemerintah daerah membangun akses jalan-jalan tol tersebut menuju pasar grosir batik Setono. Karena sebelumnya saat aktivitas pasar Grosir Batik Setono masih normal, omzet yang bisa didapat  oleh pemilik toko kain batik dengan kategori UMKM mampu mencapai 1 juta rupiah per harinya. Tetapi kini mereka mengaku hampir tidak ada transaksi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *