Sadiq Khan, Walikota London, menyatakan bahwa pascateror London Bridge dan Borough Market pada Sabtu (3/6) lalu, kejahatan dan sentimen anti Muslim meningkat sebesar 5 kali lipat. Melalui pernyataan resmi di kantornya pada Kamis (8/6) lalu, ia menyatakan, “Statistik sementara ini sampai tanggal 6 Juni menunjukkan bahwa 40% peningkatan insiden rasisme dibandingkan dengan jumlah rata-rata harian yang terjadi pada tahun ini. Dan ada peningkatan 5 kali lipat pada jumlah insiden Islamofobia.”

Tingkat Insiden Rasisme dan Islamofobia Meningkat Tajam

Berdasarkan data dari kantor walikota, ada sejumlah 54 insiden rasisme pada hari Selasa (6/6) lalu. Dan data ini menunjukkan jauh meningkatnya insiden rasisme apabila dibandingkan dengan rata-rata hanya 38 insiden per hari di tahun ini. Dua puluh di antaranya adalah insiden anti-Muslim yang juga jauh sekali melonjak di atas rata-rata di mana rata-rata 4 insiden per harinya selama 2017. Khan sendiri menambahkan bahwa hal ini menjadi jumlah yang tertinggi dalam kejadian Islamofobia pada tahun 2017 yang mana jauh meningkat pesat dibandingkan pascateror dengan korban jiwa sebanyak 130 jiwa pada bulan November 2015 silam di Paris.

Melalu akun Facebook miliknya, Khan meminta kepada seluruh warga London agar tetap bersatu bersama-sama. Ia juga secara tegas mengirimkan pesan bahwa London tak akan terpecah belah hanya karena terorisme dan juga hanya karena “orang-orang yang berusaha menyakiti kita.”

Ia menambahkan, “Selain melakukan segala macam upaya terorisme, polisi setempat juga tidak akan sedikitpun menolerir bentuk kebencian dan juga kejahatann seperti ini.” Kepolisian Metropolitan London melaporkan telah melakukan sekitar 25 penangkapan yang terkait dengan kejahatan berdasarkan kebencian sejak hari Sabtu (3/6) lalu.

Usaha Pemerintah London

Aparat keamanan juga dikabarkan sudah berkoordinasi dengan sejumlah tempat ibadah keagamaan di Ibu Kota Inggris itu dan mereka juga meminta semua orang melaporkan segala kejadian bandar togel sgp yang sekiranya berhubungan dengan kejahatan berdasarkan kebencian. Dave Stringer, kepala unit hubungan masyarakat kepolisian London, menegaskan, “Polisi akan menangani masalah ini dengan sangat serius.”

Stringer pun mengakui bahwa tren kejahatan berdasarkan kebencian tahun ini terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menyusul semakin besarnya kemauan korban untuk melaporkan model kejahatan seperti itu. Meski demikian masih banyak juga tindakan kejahatan berdasarkan kebencian yang belum dilaporkan dan juga terungkap.

Dilansie dari AFP, Stringer menambahkan, “Kita juga harus memahami bahwa peristiwa dunia ini bisa berkontribusi dalam meningkatkan insiden kejahatan berdasarkan kebencian.” Peristiwa London Bridge dan Borough Market yang terjadi pada Sabtu (3/6) lalu menjadi serangan teror yang terbaru di Inggris. Dan selama 2017 ini, Inggris sudah didera dengan 3 aksi teror.

Pada Maret lalu, seorang pria mengendarai mobil dengan membabi buta dan menabraki para pejalan kaki di Jembatan Westminster. Dan tidak berhenti di situ, sang pelaku tersebut kemudian menikam seorang polisi ketika mencoba menerobos masuk ke Gedung parlemen. Kejadian itu menewaskan sedikitnya 5 orang dan 40 lainnya luka-luka.

Dan pada Mei lalu, tepatnya 22 Mei 2017, ada sekitar 22 orang yang tewas termasuk juga anak-anak dan juga remaja ketika bom meledak di Manchester Area di konser seorang penyanyi pop asal Amerika Serikat, Ariana Grande, tenggah berlangsung.

Dan kejadian yang terakhir ini adalah pada Sabtu (3/6) lalu di mana tiba-tiba mobil van dikendarai oleh dua orang tidak dikenal dengan membabi buta dan menikam orang-orang yang ada di jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *