Pemerintah Indonesia diminta lebih waspada dalam menghadapi tren naik turunnya harga ayam dan juga telur menjelang Hari Raya Indul Fitri. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri mengatakan kepada media kemarin Selasa (30/05), “Harga ayam dan juga telur terus naik. Ayam saat ini sudah seharga Rp. 35.000 per ekor dan itu termasuk sudah tinggi. Rata-rata harganya Rp. 29.000 sampai Rp. 30.000 saja per ekornya. Sekarang sudah mencapai Rp. 35.000.”

Kenaikan Sejak Dua Pekan Menjelang Ramadhan

Menurut Abdullah Mansuri sendiri, kenaikan harga ayam memang sudah terjadi dari dua pekan sebelum menjelang bulan Ramadhan. Ia juga mengaku bahwa sudah menyampaikan hal ini ke Menteri Perdagangan untuk mewaspadai tren kenaikan harga seperti ini.

Sedangkan untuk pedagang ayam sendiri memang mengakui bahwa harga ayam sudah makin naik. Salah satunya adalah Hamdan, pedagang unggas togel hongkong yang berada di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia mengatakan bahwa harga daging ayam memang terus naik. “Per ekornya sudah mencapai Rp. 35.000, naik dibandingkan dengan harga sebelum bulan puasa,” ungkapnya kepada salah satu media berita pada hari Selasa (30/05) kemarin.

Mesk demikian, pemerintah menyatakan malahan belum akan melakukan intervensi terkait dengan harga telur dan ayam. Hal ini dikarenakan mengingat harga ayam dan juga telur beberapa waktu lalu yang sempat mengalami penurunan sehingga hal itu tak menguntungkan para peternak rakyat.

Sektretaris Jendral Kementrian Perdagangan, Karyanto Suprih, mengatakan, “Perlu diperhatikan harga di peternak yang cenderung malah turun selama bulan Januari sampai Maret.”

Saat ini harga rata-rata daging ayam di wilayah DKI Jakarta Rp. 33.988 untuk per ekornya dan untuk telur ayam bisa mencapai Rp. 22.209 per kilonya. Di tingkat nasional sendiri, harga daging ayam naik, dari yang tdainya sekitar Rp. 31.741 per kilogramnya menjadi Rp 31.908 per kilogramnya. Sedang untuk telur, kenaikannya tipis, dari Rp. 22.455 per kg nya menjadi Rp. 22. 545 per kg nya.

Peternak Berdemo di depan Istana Jakarta Keluhkan Harga Ayam dan Telur Naik Turun

Ribuan peternak hari Rabu (30/05) kemarin menggelar demo di Kawasan Monas dan juga di depan Istana Negara. Mereka mempunyai tuntutan kepada pemerintah untuk segera turun tangan mengatasi anjloknya harga ayam hidup dan juga telur di tingkat peternak. Coordinator Sekretariat Bersama Aksi Penyelamatan Nasional atau PPRPN, Sugeng Wahyudi, menyatakan bahwa demo ini terpaksa dilakukan karena fluktuasi harga sudah tidak terkendali sejak tahun 2013.

Namun hal yang aneh adalah ketika harga ayam di tingkat peternak jatuh beberapa kali, daging ayam di pasar malahan masih saja mahal, malahan cenderung terus naik yakni di atas Rp. 30.000. demikian juga berlaku untuk telur ayam yang mana sekarang dibanderol dengan harga Rp. 22.000-an per kg nya.

Sugeng memberikan pendapatnya sola ini, “Harga Pokok Produksi (HPP) sekarang ini Rp. 17.500 per kg nya namun di peternak sekarang Cuma Rp. 14.500. lalu ayam boiler juga sama, HPP nya sekarang Rp. 17.000 per kg nya tapi di kandang hanya dihargai Rp. 15.000 sampai Rp. 15.500 per kg nya.”

Dengan adanya kenaikan dan tingginya harga telur dan ayam di pasar tradisional, rupanya hal itu tidak dinkmati juga oleh para peternak. “Ini sih karena supply demand tidak bisa dikendalikan. Jadi di mana letak salahnya maka harganya ini termasuk ironis. Wajar lah kalau kita demo. Kemarin harga ayam hidup sampai Rp. 14.000 per kg nya dan naik lagi jadi Rp. 17.000 per kg. tapi kemarin sama hari ini berbeda lagi harganya. Ini sih tidak mungkin mekanisme pasar, kita para peternak terombang-ambing,” tukas Sugeng.

Ia juga menambahkan kalau penyidik sekarang ini tengah meminta masukan juga dari satuan-satuan kerja internal, khususnya divisi hubungan internasional Polri. Dan menghadapi kemungkinan Rizieq akan mendapatkan red notice, Sugito menanggapi, “Silakan kalau berani.”

“Pemerintah Arab Saudi nggak gampang diintervensi. Ini kan peristiwa politik dan bukan perkara kejahatan yang mana membahayakan negara. Bukan kejahatan berat. Ini juga perkara yang nggak jelas, jadi belum tentu pemerintah Arab Saudi mengabulkan. Saya tidak mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi melindungi, namun kami berpendapat Arab Saudi sangat concern terhadapt umat Islam secara keseluruhan,” ucap Sugito.

Alasan Rizieq Tak Langsung Pulang ke Indonesia

Sejak berangkat pada tanggal 26 April 2017 lalu, Rizieq belum juga pulang ke Indonesia. Dan sugito mengungkapkan alasannya karena menganggap kasus ini sebagai rekayasa dan juga fitnah. Ia ingin memantau perkembangannya di luar negeri. Sugito juga menambahkan bahwa Rizieq berharap kepulangannya bakal disambut seperti tokoh Revolusi Iran, Ayatollah Khomeini saat kembali dari pengasingan di Taheran pada tahun 1979 silam.

“Bahwa kepulangan beliau itu ia berharap seperti penyambutan Ayatollah Khomeini saat pulang dari Perancis ke Teheran saat revolusi Iran. Jadi kalau pun misalnya sambutan antusias dari umat tentu pemerintah akan berpikir ‘oh benar ya yang dilakukan selama ini adalah rekayasa, adalah fitnah belaka,” ungkap Sugito.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *